2 March 2013

Jawapan Ustaz Tentang Berita berkisar peperangan di Lahad Datu

Gambar : Amerika laknatullah di pinggiran liang lahad para syuhada sulu
Soalan : Apa fahaman dan pendirian ustaz tentang pelbagai berita berkisar peperangan di Lahad Datu ?

Jawapan : HasbunalLaahu wa ni'mal wakiil . Pertamanya , peristiwa tersebut ia berlaku antara kaum Muslimiin. Saya tidak mahu kemenangan kepada mana-mana pihak dan begitu juga tidak mahu kekalahan kepada mana-mana pihak . Mereka perlu didamaikan sebagaimana firman Allah :

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Dan jika dua puak dari orang-orang yang beriman berperang, maka damaikanlah di antara keduanya; jika salah satunya berlaku zalim terhadap yang lain, maka lawanlah puak yang zalim itu sehingga ia kembali mematuhi perintah Allah; jika ia kembali patuh maka damaikanlah di antara keduanya dengan adil (menurut hukum Allah), serta berlaku adillah kamu (dalam segala perkara); sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berlaku adil. [Al-Hujuraat 49:9]

Seandainya ia tidak berjaya didamaikan, maka wajib saya menyokong mereka yang dizalimi dan akan saya perangi mereka yang menzalimi itu sekadar keterdayaan saya dan tetap menyokong mereka yang memerangi penzalim.

Apapun berkait dengan keadilan , ia mestilah melalui proses yang luas dan mengambil kira gambaran kes secara keseluruhan, apalagi dalam hal sebesar peristiwa tersebut. Diakui saya belum pasti siapa yang dizalimi dan siapa yang menzalimi selagimana hal ini tiada campur tangan para ulamak yang saya anggap sebagai pemimpin (selaras pendirian Said Hawa dalam kitab al Madkhal ilaa ikhwanil Muslimiin) kaum Muslimiin di saat tiadanya pemerintahan Islam yang sebenar.

Selain itu, pendirian saya buat masa ini adalah tidak akan melayan berita sedemikian lagi dengan bersandar kepada firman Allah :

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Dan apabila datang kepada mereka sesuatu berita mengenai keamanan atau kecemasan, mereka terus menghebahkannya; padahal kalau mereka kembalikan sahaja hal itu kepada Rasulullah dan kepada - "Ulil-Amri" (orang-orang yang berkuasa) di antara mereka, tentulah hal itu dapat diketahui oleh orang-orang yang layak mengambil keputusan mengenainya di antara mereka; dan jika tidaklah kerana limpah kurnia Allah dan belas kasihanNya kepada kamu, tentulah kamu (terbabas) menurut Syaitan kecuali sedikit sahaja (iaitu orang-orang yang teguh imannya dan luas ilmunya di antara kamu). [An-Nisaa' 4:83]

Menurut Ibnu Jabir, turunnya ayat ini disebabkan adanya suatu golongan yang menyembunyikan niat jahatnya terhadap kaum Muslimin dan mereka gemar menyebar berita yang tidak pernah diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Sikap sedemikian meski tanpa niat buruk sekalipun, namun tanpa sedar yang mendengar akan terikut-ikut menyiarkan berita itu yang pada hakikatnya provokasi. Berita seperti itu tentulah bersumber dari sesuatu golongan tertentu untuk kepentingan tertentu.

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang lemah imannya dan orang-orang munafik suka menyiarkan berita-berita yang mereka ketahui terutama dalam keadaan perang iaitu berita-berita yang bocor yang tidak wajar diketahui ; rahsia peperangan, dalam negeri atau luar negeri yang sememangnya tidak wajar diketahui oleh orang awam sehingga akibatnya hura-hara akan berlaku.

Mereka menyiarkan berita-berita itu biasanya dengan maksud untuk mengacaukan keadaan. Tetapi kalau mereka bermaksud baik dan mereka mengembalikan berita itu kepada Rasul sebagai pimpinan tertinggi atau mereka kembalikan kepada ulil 'amri iaitu pemimpin-pemimpin dari orang-orang pemerintahan tentulah mereka akan mengetahui persoalan berita yang sebenarnya; mereka akan mendapat keterangan dari pimpinan-pimpinan itu, dan dengan demikian tidaklah terganggu keamanan umum.

Pada akhir ayat ini Allah menegaskan bahawa masyarakat ramai akan terpengaruh oleh orang yang menyiarkan berita yang sama halnya dengan syaitan, kecuali orang yang kuat imannya yang selamat dari kesan provokasi tersebut. Dengan rahmat dan kurnia Allah, kaum Muslimin terpelihara dari perangkap sebegitu jika mereka patuh pada Allah dan Rasul dan mengembalikan segala urusan kepada pimpinan yang dipercayai.

Imam Muslim ada meriwayatkan dari Umar bin Khattab, katanya, "Tatkala Nabi saw. mengasingkan diri dari para istrinya, aku masuk ke dalam masjid, tiba-tiba ku lihat orang-orang (para sahabat) melempar-lempar batu kerikil ke tanah seraya mengatakan Rasulullah telah menalak isteri-isterinya, lalu aku berdiri tegak di pintu mesjid dan kuserukan dengan sekuat suaraku bahwa Nabi tidak menalak istri-istrinya, kemudian turunlah ayat ini, 'Dan jika datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan dan ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Padahal seandainya mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin menyelidiki duduk perkaranya akan dapat mengetahuinya dari mereka.' (Q.S. An-Nisa 83). Maka saya termasuk di antara orang-orang yang menyelidiki duduk perkaranya itu." (hadis yang panjang ini boleh dirujuk ke dalam kitab Shahih Muslim , 1427)

Maka saya berpendirian sebagaimana syaidina Umar r.'anh dalam hadis di atas untuk bertegas tidak mengiyakan sebarang berita provokasi orang-orang media yang tidak dapat dikenalpasti tahap thiqah mereka dan apalagi mengulasnya.

Saya nasihatkan kerajaan Malaysia supaya merujuk kepada para ulamak untuk mendapat penyelesaian yang terbaik dalam setiap perkara kerana ia selaras dengan kehendak Islam sebagai agama persekutuan . Sekadar mampu mencari jalan damai . Wallaahu a'lam.

No comments:

Post a Comment

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Berita Agama

 

Halimislam Online 2011-2012. All Rights Reserved | Back To Top |